warna kehidupan

Entri Populer

  • Surat Dari Bayi Yang di Aborsi
    Mama Tersayang Apakah Mama Masih sering murung dan menangis? Aku harap semuanya sudah menjadi lebih baik. Sewaktu aku masih di dalam kand...
  • Setegar Batu Karang
    Banyak orang yang merasa lemah, dan selalu merasa tidak kuat menjalani hidup ini kemudian. Pergilah ke pantai atau ke laut… lihatlah batu ...
  • Ketika Bingung jadilah seperti bunga matahari
    Pernahkah Anda berada dalam kondisi yang sangat membingungkan, di antara beberapa pilihan yang membuat Anda merasa tertekan, dihimpit berba...
  • jadilah sahabat yang menyenangkan
     Secara fitrah, menikah akan memberikan ketenangan ( ithmi’nân/thuma’nînah ) bagi setiap manusia, asalkan pernikahannya dilakukan sesuai de...
  • Rumah Tangga
    Pengertian dari sebuah rumah tangga, adalah hidup bersama dalam satu atap, menjaga keharmonisan dan pengertian. Rumah tangga bukan bera...
  • aku mencintaimu setulus hati
    Sepasang pengantin baru telah selesai melangsungkan sebuah pesta pernikahan. Dua sejoli ini sungguh berbahagia saat mengarungi masa-masa s...
  • Hakikat mencintai
    Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendo’akannya walaupun dia tidak berada disisi kita. Tuhan memberikan kita dua kaki un...
  • Bukan Akhir dari segalanya...
    Sometimes the end is just the beginning... Apakah Anda merasa sedih karena sedang berpisah dengan seseorang? Ditinggalkan oleh orang ya...
  • Maafkan aku
    Maafkan aku, jika aku membuat hati kalian tidak terjaga... Sehingga, sangat menggangu waktu-waktu berharga kalian... Maafkan aku, jik...
  • Belajar dari semut dan laba-laba
    Saudaraku, bila anda saat ini sedang sedih dan merasa buntu pikiran dalam menghadapi masalah, mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu memb...
Tampilkan postingan dengan label Artikel kutipan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel kutipan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Januari 2011

Metamorfosis

menjadi karanglah meski tidak mudah,

sebab ia kan menahan sengat binar mentari yang garang,

sebab ia kan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa

tanpa kenal lelah

melawan bayu yang keras menghembus

dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan

sebab keteguhanya kan menahan hempas badai yang datang

menggerus/ terus menerus

ia kan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus

ia kan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad, tanpa rasa jemu dan bosan

menjadi mutiaralah meski itu juga tak mudah

sebab ia berada di dasar samudra yang dalam

sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia

sebab ia begitu berharga, sebab ia begitu indah dipandang mata

sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam..

menjadi pohonlah yang tinggi menjulang meski itu tidak mudah

sebab ia tetap tegar bara mentari yang terus menyala di setiap siangnya

sebab ia kan meliuk halangai angin yang bertiup kasar

ia kan terus menjejaki bumi hadapi gemuruh sang petir

sebab ia hujamkan akar yang kuat untuk menopang

untuk menahan gempita hujan yang coba merubuhkan

dan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan mengeyangkan

sebab ia kan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang singgah di dahannya

lalu berikan tempat berlindung dengan rindang daun-daunya

menjadi melati-lah meski tampak tak bermakna

sebab ia kan tebar wewangian tanpa meminta balasan

ia begitu putih seolah tanpa cacat

sebab ia tak takut hadapi angin dan hujan dengan mungil tubuhnya

ia tak pernah iri melihat mawar yang segar merekah

dan tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi

ia tak pernah dengki dan rendah diri

pada keanggunan anggrek dan tulip yang berwarna-warni

dan tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya…

menjadi elang-lah dengan segala kejantananya, meski itu juga tak mudah

sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit

melanglang buana taklukan medanya

sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru

ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh

menukik tajam mencengkeram mangsa

dan kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya

bersama kepak sayap yang membentang gagah

menjadi kupu-kupulah meski itu juga tak mudah

sebab ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya saat ini

ia lalui semedi panjang tanpa rasa bosan

dan belajar lebih banyak berdiam

untuk menunggu waktu yang tepat tentang keindahan

sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan

hingga tiba saat keluar dan bagikan kebaikan…

(Thufail Al-Ghifari)
Diposting oleh Lilis di 02.18 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Artikel kutipan

Rabu, 08 Desember 2010

Belajar dari semut dan laba-laba

Saudaraku, bila anda saat ini sedang sedih dan merasa buntu pikiran dalam menghadapi masalah, mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu memberi inspirasi dan kebaikan dari permasalahan yang sedang anda hadapi , Saudaraku...

Pernahkah engkau memperhatikan seekor semut yang sedang berjalan ?
Seekor semut yang berjalan sambil membawa sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya (mungkin makanan), jika ditutup jalannya , semut itu tidak akan marah. Tapi ia berhenti dan berbelok mencari jalan kedua. Jika kita tutup jalan kedua semut, maka sang semut akan berhenti dan mencari jalan ketiga. Saya coba tutup jalan ketiga , maka ia tetap tidak marah, dan berusaha menempuh jalan keempat..

Dalam kehidupan semut inilah ada ibrah (pelajaran hikmah) menarik sebagai rangkaian nilai hidup yang berharga.

Konsisten, tidak pernah putus asa, selalu disiplin dan berusaha mengatasi semua tantangan.


Walau tubuh semut kecil dan ringan,tapi keteguhan dan kegigihan semangatnya dalam berusaha menjadi contoh yang baik bagi manusia dalam konteks beraktivitas dan bekerja.

Demikian pula halnya laba-laba. Jika rumah yang telah dibangun dihancurkan, apakah ia merasa putus asa dan pergi meninggalkan dunia ? Apakah ia akan datang kepada anda mengadukan laba-laba yang lain putus asa ? TIDAK !

Laba-laba selalu cepat memulai membangun rumah yang baru. Jika rumah itu dihancurkan lagi, ia akan membangun rumah baru lagi. Begitu seterusnya ia menjalani hidup tanpa pernah merasa putus asa dan murung. Perbuatan yang berkesinambungan akan menyempurnakan perjalanan hidup. AKtivitas membangun tanpa kenal lelah akan menghantarkan pada tujuan yang diharapkan.


Jadilah Anda seperti itu wahai Saudaraku...
 Berbuatlah bersungguh-sungguh dan belajarlah dari serangga ini. Serahkan hasil akhir perbuatan Anda kepada Allah dan bertawakal-lah kepadaNya dalam segala aktivitas anda.

"Kami tidak akan menyia-nyiakan perbuatan orang yang berbuat baik" (Quran Surah Al-Kahfi ayat 30)
Diposting oleh Lilis di 18.11 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Artikel kutipan

Selasa, 23 November 2010

Surat Dari Bayi Yang di Aborsi

Mama Tersayang

Apakah Mama Masih sering murung dan menangis? Aku harap semuanya sudah menjadi lebih baik. Sewaktu aku masih di dalam kandunganmu, aku selalu bersedih setiap kali aku mendengar Mama menangis. Aku selalu ingin menghiburmu, andai saja aku bisa. Tetapi lebih sering aku ikut menangis bersamamu. Kadang aku berteriak, “Mama, Mama sayang, kenapa menangis?”

Lalu aku menendang-nendang perutmu, agar Mama tahu aku ada di sini dan menemanimu, dan Mama tidak sendirian. Ada aku di sini. Tapi sepertinya teriakan ku kurang kencang dan tak terdengar olehmu. Di saat seperti itu, biasanya aku menangis lebih keras lagi. Aku selalu bersedih setiap kali mendengar hal-hal buruk menimpamu.

Belum lama aku meninggalkan rahimmu yang hangat itu, Mama tersayang. Bahkan aku masih ingat ketika aku melihat jari-jari tangan dan kakiku yang mungil – yang kadang-kadang kugerakkan dengan memukul atau menendang dinding rahimmu. Aku rindu saat-saat itu.

Aku selalu merasa ada ikatan khusus yang bekerja secara misterius di antara kita. Ikatan yang seolah-olah menyatukan hati dan perasaan kita. Bila kau senang, aku pun senang. Bila kau menangis aku juga merasakan sakitnya. Suatu hari kau menangis nyaris sepanjang malam – dan aku merasa bersedih mendengarnya. Tapi aku tak bisa membayangkan apa yang membuatmu bersedih? Siapa yang membuatmu menangis?

Pada malam yang sama ketika aku berusaha menghiburmu melalui tendangan-tendangan kecilku, sesuatu yang mengerikan terjadi padaku. Tiba-tiba lenganku seperti ditarik paksa dari tempatnya, dan tak lama dari itu aku melihat lenganku terlepas. Sakit sekali rasanya. Sakit yang hebat yang baru pertama kali kurasakan dan langsung merenggut tanganku. Aku sangat ketakutan. Aku berteriak sekuat tenaga sambil menahan sakit yang teramat di tubuhku. Tapi, Mama tersayang, mengapa kau tak berusaha menolongku?

Tangismu berhenti, tapi peristiwa yang lebih mengerikan justru terjadi padaku. Kakiku ditarik oleh sesuatu yang sangat dingin dan kejam – ditarik sampai kedua kakiku putus. Sakit sekali sampai aku kesulitan untuk bergerak dan bernapas lagi. Aku seperti merasakan sel-sel dalam tubuhku menyempit dan aku tak kuat lagi. Aku berteriak dengan sisa-sisa suaraku, “Mama, Mama, tolong aku! Tolong aku!” Tetapi sepertinya kau memang tak mendengar suaraku.

Tiba-tiba tubuhku dicabut dari tempatnya semula, dan rasa sakit yang dahsyat menghantamku hingga aku tak sadarkan diri lagi. Oh, Mama tersayang, betapa aku berusaha untuk tetap hidup dan menemanimu di sana. Tetapi sesuatu yang misterius itu tak bisa kuhentikan. Meskipun aku sudah menangis keras dan memohon kepadanya, ia tetap merenggut lenganku, kakiku, hingga seluruh tubuhku.

Mama tersayang, maafkan aku sudah tak bisa lagi menemani hari-harimu. Sebenarnya aku ingin sekali selalu bersamamu. Aku ingin mengusir semua air matamu. Aku punya banyak rencana untuk membahagiakanmu suatu saat nanti. Tetapi kini semuanya sudah terlambat, aku tak lagi bersamamu. Bahkan aku tak sempat mengatakan ak sangat menyayangimu. Pernah menjadi bayi di rahimmu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri buatku.

Mama tersayang, aku hanyalah satu dari sekian banyak calon bayi perempuan yang malang. Dan sejujurnya, aku masih ingin menjadi seorang bayi perempuan yang bisa tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik – sepertimu. Tetapi, rasanya kini semuanya sudah terlambat. Aku sudah pergi. Aku sudah tak bernyawa dan bernapas lagi.

Seseorang di sini mengatakan padaku bahwa aku adalah seorang bayi perempuan korban aborsi. Ia mengatakannya sambil mengejekku, hatiku sakit sekali mendengarnya – meskipun aku tak mengerti apa yang ia katakan. Aku tak tahu makhluk seperti apa aborsi itu. Aku nelum pernah mendengar sebelumnya. Apakah yang dikatakannya benar?

Mama tersayang, aku menulis surat ini untuk mengingatkanmu agar kau berhati-hati pada makhluk bernama aborsi itu. Makhluk ini jahat sekali. Dengan kejam ia merenggut lenganku, kakiku, tuibuhku, nyawaku. Aku jadi berpikir, apakah ia yang selama ini membuatmu menangis? Aku tak tahu. Aku tak dapat membayangkannya. Tetapi aku ingin Mama tetap berhati-hati padanya.

Mama tersayang, aku mohon maaf karena aku telah pergi meninggalkanmu sendirian. Aku harap kau bisa mengatasi semua masalahmu dan menjadi seseorang yang selalu dilingkupi kebahagiaan. Dan aku, meskipun tak bersamamu lagi, selalu mendoakanmu.

Salam sayang dari sini,
Bayi perempuanmu yang pergi.

Tulisan diatas adalah Kutipan dari buku "RAHIM" karya Fahd Djibran

http://www.rahimsemesta.co.nr/

STOP ABORTION!
Diposting oleh Lilis di 19.58 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Artikel kutipan

Minggu, 07 November 2010

Mengoptimalkan peran ibu rumah tangga

Oleh : Reta Fajriah
(Pemerhati Masalah Keluarga)


كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، اْلإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

Masing-masing kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya…(HR al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah saw. telah menetapkan tanggung jawab terhadap laki-laki (suami) dan perempuan (istri) dalam kapasitas sebagai pemimpin yang berbeda di dalam sebuah keluarga. Suami sebagai pemimpin bertugas mengendalikan arah rumah tangga serta penjamin kebutuhan hidup sehari-hari—seperti makanan, minuman dan pakaian—serta bertanggung jawab penuh atas berjalannya seluruh fungsi-fungsi keluarga. Adapun istri berperan sebagai pelaksana teknis tersedianya kebutuhan hidup keluarga serta penanggung jawab harian atas terselenggaranya segala sesuatu yang memungkinkan fungsi-fungsi keluarga tersebut dapat dicapai. Berjalan-tidaknya fungsi-fungsi keluarga secara adil dan memadai merupakan indikasi tercapai-tidaknya keharmonisan dalam keluarga. Namun, ibarat mengayuh perahu, keduanya harus saling kompak dan bekerjasama agar biduk rumah tangga tidak terbalik. Fungsi-fungsi keluarga yang dimaksud adalah fungsi reproduksi (berketurunan), proteksi (perlindungan), ekonomi, sosial, edukasi (pendidikan), afektif (kehangatan dan kasih sayang), rekreasi, dan fungsi reliji (keagamaan).
Tugas utama serang istri secara umum ada dua: (1) sebagai Ibu, yang berkaitan langsung dengan pemenuhan fungsi reproduksi serta fungsi edukasi; (2) sebagai pengatur rumah tangga, yang berkaitan dengan pemenuhan fungsi-fungsi keluarga yang lainnya.

Beberapa Tuntunan
Pertama: Dalam pandangan Islam, tujuan dari pernikahan tidak hanya sekadar memiliki keturunan, tetapi juga bagaimana menjadikan keturunan kelak menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa (Lihat: QS al-Furqan [25]: 74). Agar terwujud, sudah pasti sang pemimpin terlebih dulu harus menjadi orang yang bertakwa. Untuk itulah, Islam telah memberi tuntunan agar mendapat keturunan yang baik dengan cara mempersiapkannya seawal mungkin, yaitu sejak sang ayah dan ibu berikhtiar untuk mendapatkan keturunan. Allah Swt. telah mensyariatkan adanya doa sebelum berhubungan intim, selanjutnya melakukan pendidikan terhadap anak mulai dari masa kandungan hingga anak mencapai usia balig.
Pendidikan adalah sebuah proses yang berkesinambungan hingga dapat mengantarkan anak memasuki usia balig dalam kondisi siap untuk menerima segala bentuk pembebanan hukum syariah saat dewasa. Di samping itu, anak perlu dibekali dengan keterampilan hidup yang memungkinkan baginya untuk bisa eksis dalam mengarungi kehidupan ini. Untuk itulah seorang Ibu dituntut agar memiliki kemampuan mendidik anak, baik dari sisi konsep maupun teknis pelaksanaan berikut pembiasaan dalam keseharian anak.
Kedua: Seorang istri berperan mengelola rumah tangganya agar tercapai keharmonisan di dalam keluarga. Dalam hal keuangan, istri diharapkan dapat mengatur sedemikian rupa nafkah yang diberikan oleh suami agar mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi jika penghasilan suami tidak seberapa besar. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyusun daftar rencana pemasukan dan pengeluaran dalam satu bulan, dengan prioritas pengeluaran yang dianggap paling penting. Jika kebutuhan hidup masih belum mencukupi, dengan izin suami seorang istri bisa saja membantu suami dalam menambah ekonomi keluarga. Jika memungkinkan carilah peluang pemasukan yang tidak banyak menyita waktu ke luar rumah, misalnya dengan menulis artikel dan buku; atau yang dapat membuka kesempatan untuk berinteraksi lebih banyak dengan masyarakat, seperti menjual busana Muslimah atau kebutuhan hidup sehari-hari di rumah; atau yang dapat menambah wawasan dan pengalaman dalam mendidik anak, misalnya dengan menggeluti bidang pendidikan anak. Yang jelas, semua itu tidak boleh melalaikan kewajibannya yang lainnya seperti mendidik anak ataupun berdakwah.
Ketiga: Dalam hal pemenuhan fungsi proteksi keluarga, seorang istri dapat mengkondisikan suasana rumah yang tenang, bersih dan tertata rapi agar menjadi tempat berlindung yang nyaman dan membuat betah para penghuninya. Rasulullah saw. memuji seorang istri yang pandai merapikan rumah dengan mengatakan, “Ia tidak memenuhi rumah kita dengan sarang burung.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Kepedulian dan kesabaran istri dalam menyikapi persoalan yang dihadapi anggota keluarga dapat menjadikan suami dan anak-anak ingin segera kembali ke rumah untuk menyampaikan setiap suka dan duka yang dihadapinya di luar rumah. Keluarga menjadi tempat yang paling aman dan menyenangkan secara fisik dan psikis bagi anggotanya untuk saling berbagi. Apalagi bagi anak-anak, sebab sangat riskan jika mereka mencari kenyamanan di tempat lain yang bisa jadi berbahaya bagi pergaulannya.
Keempat: Fungsi sosial keluarga ditandai dengan adanya interaksi keluarga dengan masyarakat. Keharmonisan dengan anggota masyarakat harus terus dijalin, sebagaimana keharmonisan antar anggota keluarga. Apalagi Allah Swt. telah menetapkan akhlak bertetangga, sebagaimana sabda Nabi saw. (yang artinya):
Hak tetangga adalah jika dia sakit, engkau mengunjunginya; jika dia wafat, engkau mengantarkan jenazahnya; jika dia membutuhkan uang, engkau meminjaminya; jika dia mengalami kemiskinan (kesukaran), engkau rahasiakan; jika dia memperoleh kebaikan, engkau ucapkan selamat kepadanya; dan jika dia mengalami musibah, engkau mendatanginya untuk menyampaikan rasa duka. Janganlah meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya sehingga menutup kelancaran angin baginya. Jangan kamu mengganggunya dengan bau periuk masakan kecuali kamu menciduk sebagian untuk diberikan kepadanya. (HR ath-Thabrani).
Alangkah mulia tuntunan ini jika diamalkan dalam keseharian, khususnya oleh seorang istri yang relatif lebih banyak waktu di rumah. Hubungan yang baik dengan tetangga juga sangat membantu untuk mewujudkan kepemimpinan dan lingkungan yang islami. Berbagai hal bisa dilakukan dalam menumbuhkan kegiatan-kegiatan yang kondusif bagi syiar Islam dan pendidikan anak, misalnya dengan mengadakan pengajian rutin di kalangan ibu-ibu, sanlat dan kajian keislaman untuk anak dan remaja, serta pengajian umum untuk keluarga pada momen-momen tertentu. Sebuah keluarga yang bisa diterima dalam masyarakat, secara tidak langsung akan memperkuat pula dorongan bagi anggotanya untuk melaksanakan amar makruf nahi mungkar terhadap lingkungan yang juga merupakan kewajiban bagi setiap Muslim.
Kelima: Adanya kasih sayang dan kehangatan di dalam keluarga merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam menciptakan keharmonisan di dalam rumah tangga. Rasulullah mengajarkan hal yang demikian. Beliau bersabda, sebagaimana penuturan Anas ra., “Wahai anakku, jika kalian masuk menemui istrimu, ucapkanlah salam. Salammu itu menjadi berkah bagimu dan bagi penghuni rumahmu.” (HR at-Tirmidzi).
Dalam hadis lain, Ummul Mukminin Aisyah ra. Berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling lunak hatinya, mudah tersenyum dan tertawa.” (HR Ibnu Saad).
Sebaliknya, seorang istri juga perlu selalu menyambut suami dengan menampakkan wajah berseri-seri dan memakai wewangian. Ketika bercakap-cakap, buatlah suasana santai dengan mendahulukan kabar yang menyenangkan dan disertai senda gurau. Sikap demikian akan membawa kesegaran bagi keduanya setelah seharian bergelut dengan kegiatan masing-masing. Ketika ada hal yang kurang berkenan, carilah waktu, tempat dan cara yang tepat untuk menyampaikannya. Tunjukkan bahwa penegur tidak berarti lebih baik dari yang ditegur. Adapun caranya sangat bergantung pada sifat suami, apakah lebih tepat disampaikan dalam bahasa yang jelas dan lugas atau dengan bahasa sindiran. Yang jelas semua dimaksudkan untuk kebaikan, tidak untuk menjatuhkan dan menunjukkan kekurangannya. Kalaupun ada kelemahan suami yang agak sulit diubah, hiburlah diri, dengan mengingat kebaikannya yang banyak, sebagaimana sabda Nabi saw., “Janganlah seorang Mukmin (suami) membenci Mukminah (istri). Jika ia membenci satu bagian, pasti ada bagian lain yang menyenangkannya.” (HR Muslim).
Tentu hadis ini berlaku sebaliknya. Kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga juga meliputi hubungan antara orangtua dan anak. Biasakanlah memanggil anak dengan nama kesayangannya ataupun harapan yang baik, seperti anak salih, pintar, berani dan lain-lain. Ketika anak dikondisikan demikian, maka akan terbentuk konsep diri yang positif pada dirinya, sehingga anak termotivasi menjadi seperti yang diharapkan. Anak yang tumbuh dalam suasana keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang akan lebih percaya diri dalam menghadapi kehidupan di kemudian hari.
Keenam: Di tengah kesibukan anggota keluarga sehari-hari, penting untuk menyempatkan rekreasi bersama. Rekreasi tidak identik dengan wisata yang mengeluarkan biaya mahal, tetapi cukup dengan berkumpul di tempat yang santai, bersenda gurau bersama dan melepaskan segala rutinitas yang melelahkan. Kegiatan ini juga bisa dilakukan di rumah, misal dengan berkebun, olahraga, menonton tayangan, bermain air, bahkan sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci atau mengepel. Intinya kegiatan ini dilakukan oleh seluruh anggota keluarga dalam suasana yang santai dan menyenangkan. Sesekali bisa saja diselipkan cerita lucu dan bermain tebak-tebakan. Seorang istri harus pandai memanfaatkan waktu, meskipun singkat, guna mengkondisikan kegiatan seperti ini. Kesegaran yang didapatkan, sangat membantu semuanya untuk kembali beraktivitas rutin di hari berikutnya.
Ketujuh: Hal yang tidak kalah pentingnya dalam keluarga adalah fungsi religius. Jika fungsi ini tidak terlaksana dengan baik, sebuah keluarga akan merasakan kegersangan batin, seberapapun tercukupi kebutuhan materi. Suasana ibadah dapat ditumbuhkan di tengah keluarga dengan terbiasa melakukan shalat berjamaah, tadarus bersama, shaum sunnah dan qiyamullail. Rasulullah saw. memuliakan suami istri yang terbiasa melakukan qiyamullail bersama, “Semoga Allah merahmati lelaki yang bangun malam, mengerjakan shalat dan membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan bangun, ia memercikkan air di wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun malam, mengerjakan shalat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan, ia memercikkan air di wajahnya. (HR Abu Dawud dan Ibn Majah).
Subhânallâh! Betapa indahnya kebersamaan seperti ini, apalagi jika dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Seorang istri dapat membiasakan hal seperti ini di tengah keluarganya agar keluarga tersebut menjadi keluarga yang selalu dekat dan bertakwa kepada Allah Swt. Dengan demikian, setiap cobaan dan ujian yang menimpa keluarga akan dapat dihadapi dengan sikap sabar dan tawakal kepada Allah Swt.

Khatimah
Demikian tuntunan yang dapat dilakukan seorang perempuan dengan perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga untuk membawa keluarganya menjadi keluarga yang harmonis; sakînah mawaddah wa rahmah. Adanya kerjasama dengan suami akan sangat membantu tugas yang sangat berat ini.
Semoga Allah Swt. memberikan balasan atas setiap upaya yang kita lakukan dengan pahala yang berlipat ganda di sisi-Nya. Amin
Diposting oleh Lilis di 23.28 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Artikel kutipan

Menjaga keharmonisan rumah tangga

Siapa pun yang telah melangsungkan pernikahan, tentunya menginginkan terbentuknya rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rohmah.
Sudah fithrah bahwa pria dan wanita diberikan rasa saling suka, simpati, rasa ketertarikan. Namun mampukah kita menjaga semua perasaan-perasaan itu, sesuai dengan jalan yang diridhoi Allah SWT? Apalagi sebagai orang beriman, kita harus yakin akan janji-janji Allah yang pasti benar. Seperti di dalam surat An-Nur ayat 26 yang menyebutkan bahwa “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula, sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula. Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga). Haruskah kita ragu dengan janji-janji Allah SWT? Ya semua berpulang pada keimanan kita masing-masing dalam meyakini janji tersebut. Kita harus yakin, bahwa Allah akan memberikan jodoh yang sekufu untuk kita, karena pasangan hidup kita adalah refleksi dari diri kita.
Lalu bagaimanakah kiat-kiat menjaga keharmonisan rumah tangga kita agar tetap sakinah mawaddah wa rohmah hingga kematianlah yang memisahkan kita dengan pasangan hidup kita sebagai berikut :
1.Berbagi visi dan cita-cita
Dalam menentukan pasangan hidup, tentunya di awal pernikahan kita harus benar-benar meluruskan niat kita. Apalagi bagi seseorang yang sudah memilih da’wah sebagai jalan hidupnya, maka selayaknya juga berharap pasangan hidupnya adalah seseorang yang juga memahami tentang makna da’wah itu sendiri. Dengan kata lain sefikrolah (satu visi dan misi, satu pemikiran). Agar nantinya lebih mudah dalam berkomunikasi dan menentukan arah dan langkah hidup selanjutnya. Tidak bisa dibayangkan, jika suami aktif da’wah mendapatkan seorang isteri yang tidak paham makna da’wah, atau sebaliknya, seorang isteri yang aktif da’wah mendapatkan pasangan hidup yang kurang memahami makna da’wah itu sendiri. Jika hal ini terjadi, tentunya akan sulit terbentuknya rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rohmah.
2.Saling percaya
Ini juga merupakan salah satu modal utama yang harus dimiliki para pasangan hidup. Kita harus bisa menjaga kepercayaan yang diberikan pasangan hidup kita. Jangan sekali pun mengkhianati perasaan pasangan kita. Jagalah kepercayaan ini dengan baik. Baik kita maupun pasangan hidup kita hendaknya berjalan lurus sesuai tuntunan agama, maka yang akan tumbuh adalah rasa saling percaya.
3.Saling menghargai
Dalam hal ini kita bisa mencontoh Rasulullah SAW yang begitu lembut dan menghargai para isteri beliau. Sampai-sampai, pada suatu hari Rasulullah SAW pulang larut malam dan tak dapat membuka pintu karena isteri Beliau tertidur di depannya,maka Rasulullah SAW memutuskan tidur di luar rumah, subhanallah.
4.Mudah memaafkan
Dalam hidup ini, tentu saja tak ada gading yang tak retak, maka jika salah satu diantara pasangan hidup kita berbuat salah, maka MAAFKANKAH, dan selesaikan semua persoalan sebelum pergi tidur.
5.Keterbukaan
Rumah tangga yang baik, sebaiknya menganut sistem manajemen keterbukaan. Jangan pernah ada sedikit rahasiapun diantara kita dengan pasangan hidup kita. Masalah keuangankah, masalah da’wahkah, masalah teman-teman fesbukkah, masalah sms-smskah, semua hendaknya kita ceritakan dengan pasangan hidup kita. Istilahnya tidak ada dusta diantara kita dan pasangan hidup kita tentunya.
6. Bersahabat dalam suka dan duka
Kebahagiaan suami adalah kebahagian kita, kesedihan suami juga kesedihan kita demikian sebaliknya. Hendaknya kita selalu bersama dengan pasangan hidup kita baik suka maupun duka.
7.Menerima kekurangan pasangan hidup
Di dunia ini, tentu saja tidak ada manusia yang sempurna. Apalagi manusia adalah tempat salah dan lupa. Rasanya kurang bijak, jika menganggap pasangan hidup kita seperti malaikat yang tak punya dosa. Yakinlah, di balik kekurangan pasangan hidup kita, pasti Allah SWT ciptakan berbagai kelebihannya. Jangan pernah sekali-kali membandingkan pasangan hidup kita dengan pasangan hidup orang lain. Yakinlah, pasangan hidup yang dipilihkan Allah untuk kita, adalah yang terbaik, Insya Allah.
8.Bersikap murah hati dalam kemesraan
Biasanya wanita lebih bersifat romantis dibandingkan seorang pria. Walaupun dari cerita seorang teman akhwat, justru suaminyalah yang lebih romantis. Tidak masalah, kalau suami kita tidak bisa romantis, ya kitalah sebagai isteri yang bersikap romantis atau sebaliknya. Jangan pernah pelit dengan kata-kata lembut, kata-kata sayang, love much, my honey. Bisa kita lakukan ketika bersms dengan suami kita, bisa juga dengan pertanyaan-pertanyaan perhatian, Mas, sudah makan belum?, atau ada yang bisa aku bantu, Mas?. Bisa juga di awal sms atau telepon, dengan kata-kata, Assalamu’alaikum say, sedang apa di kantor? Atau Abi, jangan lupa ya bawakan aku oleh-oleh ya, love much…(mengakhiri sms misalnya). Biasanya dengan kelembutan dan kasih sayang, semua akan menjadi cair dan akan bertambah rasa cinta dan sayang kita terhadap pasangan hidup kita.
9.Ciptakan kejutan bagi pasangan
Kadang-kadang kejutan yang kecil pun sangat bermakna bagi pasangan hidup kita. Misal pulang ceramah, kita belikan semangkok bakso dengan juice jambu kesukaannya, ataupun sebaliknya, pulang kerja, tiba-tiba suami kita belikan oleh-oleh martabak kesukaan kita, bisa juga majalah Ummi atau Tarbawi (terbaru misalnya). Bisa juga ketika suami pulang, sudah kita masakkan masakan kesukaannya. Dalam Islam memang tidak ada hari ulang tahun, namun tidak salahnya kita memberikan hadiah untuk pasangan hidup kita, bisa membelikan sebuah dompet, baju koko, atau kemeja kesukaannya. Jangan lupa ucapkan terima kasih atas pemberian tersebut, agar bertambah rasa syukur kita pada Allah SWT, yang telah menganugerahkan pasangan hidup untuk kita.
10.Ciptakan bulan madu kedua
Sesekali, ajaklah pasangan hidup kita, untuk berduaan saja tanpa anak-anak, untuk menikmati saat-saat indah berdua saja. Bisa makan berdua di luar rumah, dengan suasana romantis. Tidak perlu yang mahal kok, yang penting nilai kebersamaannya. Lalu bicaralah dari hati ke hati, jadilah pendengar yang baik, sampai pasangan kita menyelesaikan pembicaraannya Tataplah mata pasangan hidup kita dengan penuh cinta dan kasih sayang. Subhanallah, indah sekali, jika semua pasangan hidup bisa melakukan hal ini, rasanya tidak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan di dunia ini. Yakinlah, Insya Allah setelah acara ini, irama hidup pasti berubah !.
11.Jangan sepelekan janji
Bila sudah berjanji dengan pasangan hidup kita, usahakanlah untuk menepatinya, biarpun untuk hal-hal yang kecil atau sepele. Seperti menjemput dari ceramah, atau mengantarkan ke dokter, misalnya. Tapi sebagai seorang isteri, kita pun harus menyadari tugas dan amanah da’wah yang diemban suami. Misalnya, sudah berjanji akan menjemput kita, namun tiba-tiba ada amanah da’wah yang jauh lebih penting, maka kita pun harus ikhlas untuk tidak dijemput.Hal ini bukan berarti pasangan hidup kita ingkar janji. Ya semua akan terasa indah manakala kita dapat memahami setiap pasangan hidup kita
Semoga " kutipan artikel " ini bermanfaat bagi kita semua, amin
Diposting oleh Lilis di 23.21 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Artikel kutipan
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Lencana Facebook

Lilis Mulyamah

Buat Lencana Anda

Feedjit

chat yuuuuk !!


ShoutMix chat widget

mau tau ??

Label

  • Artikel kutipan (5)
  • Baca Yuk (5)
  • kaca diri (4)
  • kau dan aku (9)
  • Lentera (1)
  • Masak yuuukk (5)
  • Pencerahan (9)
  • Pendidikan (4)
  • PUISI (13)

Mengenai Saya

Foto saya
Lilis
aku bukanlah aisyah,,,yang tercantik, bukan khadijah yang paling setia, bukan pula siti hajar yang paling tabah,aku hanya wanita biasa yang ingin menjadi penyempurna hidupmu. selalu berusaha positif thinking, percaya sama Allah kalau segala sesuatu itu pasti ada jalan keluarnya.apa yang kita dapatkan itulah yang terbaik buat kita hidup seperti bunga matahari, yang selalu menoleh mengikuti arah matahari,seumpama kita yang selalu berjalan mengikuti kata hati "If you look over your left shoulder and it is saying to go this and your other shoulder is telling you to go the other way. Then just follow your heart and you will be ok" - Anonymous -
Lihat profil lengkapku
  • Lilis Nu Baru

    Buat Lencana Anda

Pengikut

Arsip Blog

  • ▼  2011 (14)
    • ▼  Juli (5)
      • Bukan Akhir dari segalanya...
      • Bahagia dengan Hati yang Rusak
      • Hikmah dari kehilangan
      • aku mencintaimu setulus hati
      • Asa Yang Hilang
    • ►  Januari (9)
  • ►  2010 (41)
    • ►  Desember (20)
    • ►  November (14)
    • ►  Oktober (7)